BERANI KENTHIR dan KREATIF

Jaran KepankRuang Kerja KS SD N Kemurang Wetan 0114 Mei 2014

BERBURU TUYUL : Apakah saya harus mencari binatang bercapit bernama yuyu kemburan (kepiting sungai), menaruhnya ke dalam baskom, dan memasang pengilon (cermin), agar bisa menangkap makhluk plontos sebagaimana penampakan sosok misterius pada CCTV di ruangan saya !, sehingga barang-barang saya bisa raib tanpa bekas.  

Sehingga suatu hari, Taswa Oye tampak memencet-mencet ipad samsung tab 7 milik temannya. “Halo … haloo, kantor polisi? | Iya benar di sini Polsek Tanjung. Ada yang bisa dibantu | Lapor paak. Ada pencurian tas dg isinya, ini paraah pak … | Oh ya? di mana posisi tepatnya? Kami segera meluncur .. | Di berita TV pak. Cepat paak, keburu iklaan | #braakkk!!!! | *thuuutt thuutt thuuttt*

Peran Serta Masyarakat SD N Kemurang Wetan 01 Untuk Pembangunan Gedung Lantai 2

“Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu melakukan proses pematangan peserta didik yang dikembangkan dengan cara membebaskan peserta didik dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakjujuran, dan dari buruknya akhlaq dan iman” ( Mulyasana, 2011: 120 ) sehingga pemerintah menentukan pedoman penyusunan standart pelayanan minimal penyelenggaraan sekolah bidang pendidikan dasar dan menengah yang dituangkan dalam Standar pelayanan Minimal ( SPM ) dan Standar Nasional Pendidikan ( SNP ).

SD N Kemurang Wetan 01 masih belum bisa memenuhi StandarPelayanan Minimal (SPM) dengan rasio jumlah siswa dan ruang kelas serta luas sekolah. Kenyataan ini menimbulkan permasalahan dalam penyelenggraan proses belajar mengajar sekolah. Untuk itu diperlukan solusi pemecahan masalah dari sekolah dan pemerintah, sebagaimana pendapat Indarjo (2003:3) ” bahwa permasalahan pendidikan yang muncul serta belum terpecahkan dapat bersumber dari peran serta masyarakat dalam pendidikan yang masih kurang dan terabaikan oleh penyelenggara pendidikan”.

3. Sumber Dana Pendidikan

Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan keluarga dan atau masayarakat. Pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, keluarga dan masyarakat. Orang tua dan masyarakat mempunyai tanggungjawab bersama untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Dana pendidikan diperoleh dari tiga sumber, antara lain Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Masyarakat. “ Dalam pembahasan pembiayaan pendidikan sumber-sumber biaya itu dibedakan dalam tiap golongan yaitu peemerintah, masyarakat, orangtua dan sumber lainnya “ ( Nanang Fatah, 2006: 48).

Sumber dana dari masyarakat adalah biaya yang diperoleh dari masyarakat melalui iuran komite sekolah. Bantuan komite sekolah dibebankan kepada anak yang masih mengikuti pelajaran di sekolah yang ditetapkan besarnya setiap siswa yang digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah.

Dengan berlakunya otonomi daerah yang akan berdampak pada otonomi pendidikan maka peran masyarakat dalam berpartisipasi dalam pengelolaan dan pembiayaan pendidikan. Peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan baik dalam pengelolaan maupun pembiayaan harus disadari adanya kesadaran bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang sehingga memotivasi masyarakat untuk memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Permasalahan tersebut mendorong penulis untuk lebih mengkaji proses partisipasi masayarakat dalam pembangunan di SD N Kemurang Wetan 01 Kecamatan Tanjung yang dipergunakan untuk kegiatan kesiswaan , peningkatan sarana dan prasarana, dan pengetahuan guru.

 4. Rapat Orang Tua Siswa

Rapat Orang Tua siswa

SD N Kemurang Wetan 01 pada 25 April 2012 mengadakan musyawarah bersama orangtua siswa untuk membahas program sekolah. Salah satu program sekolah adalah membahas permasalahan efektifitas pembelajaran di kelas dengan tempat duduk siswa yang selalu berdesakkan.

Pada awal tahun pelajaran 2012/2013 dilaksanakan rapat orang tua siswa pada 3 Oktober 2012 untuk membahas laporan perkembangan sumbangan sukarela yang sudah diterima oleh sekolah kepada komite sekolah dan orang tua siswa. Kesepakatan dalam rapat ini adalah untuk percepatan pembangunan maka sumbangan sukarela dari orang tua diwujudkan untuk pembuatan lantai dua, sedangkan ruangan dan perabotnya sekolah akan mengajukan permohonan pembangunan ruang kelas baru. Hal ini dimaksudkan agar sumbangan sukarela yang diberikan tidak selama lima kali dalam lima tahun, maka dibutuhkan kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa.

Jumlah dana yang sudah masuk disimpan dalam rekening sekolah dan tiap akhir tahun diadakan evaluasi jumlah dana yang masuk di tiap kelas. Berdasarkan kesepakatan sekolah dan pengurus komite, sekolah tidak memberikan sanksi bagi siswa yang belum memberikan sumbangan sukarela. Misalnya dalam pembagian rapot, dengan menahan rapot bagi siswa yang belum memberikan sumbangan sukarela. Dengan cara seperti ini ternyata membuat kesadaran orang tua dalam memberikan sumbangan sukarela meningkat.

Untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat yang telah memberikan sumbangan sukarela maka sekolah segera membentuk panitia pembangunan.

5. Penyusunan Panitia Pembangunan

Pantia Pembangunan Sekolah ( P2S ) ditentukan bersama dalam rapat antara guru dan orang tua siswa.

Rapat Panitia Pembangunan Sekolah SDN Kemurang Wetan 01

Panitia yang dibentuk tersebut terdiri dari unsur guru, komite dan otang tua siswa, dengan susunan panitia sebagai berikut :

Penangungjawab               :SUGIYONO,S.Pd., M.Pd.

Ketua                                    :DAAN,S.Pd

Sekretaris                          :TRIYONO

Bendahara                         :M.AGUS JAFAR

Anggota                            : GONO SUWITO,S.Pd.

TARBAN NUR

M. AMIN

6. Pembangunan Lantai Dua

Proposal penambahan ruang kelas baru melalui dana APBD II ternyata mendapatkan tanggapan dari pemerintah daerah kabupaten Brebes. SD N Kemurang Wetan 01 mendapatkan penambahan ruang kelas di lantai dua dengan jumlah dana Rp 70.000,00. Panitia pembangunan sekolah segera mengadakan musyawarah untuk segera memulai pembangunan lantai dua yang bersumber dari sumbangan sukarela masyarakat. Pelaksana pembangunan langsung dilaksanakan oleh orang tua siswa, hal ini disebabkan karena dana yang dipergunakan untuk pembuatan lantai dua berasal dari orang tua siswa.

Proses pembangunan ruang kelas baru bersumber dana APBD II dengan lantai dasarnya sudah hampir selesai, ternyata proposal perpustakaan dengan perabotnya mendapatkan persetujuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes. Jumlah dana yang akan diterima sebesar Rp 112.300.000, 00 berupa bangunan dan perabotnya. Maka sekolah segera mengadakan rapat orang tua siswa dan Komite Sekolah pada 30 September 2013, karena dana sumbangan sukarela yang sudah dipergunakan untuk pembuatan lantai dua ruang kelas baru beserta tangga pengaman.

Hasil musyawarah orang tua yang dipimpin oleh Komite sekolah bahwa sekolah sudah mampu menyelesaikan pembangunan lantai dua untuk ruang kelas baru,dan pembangunan ruang perpustakaan sudah mendapatkan persetujuan, maka orang tua akan memberikan kepercayaan kepada sekolah untuk memberikan sumbangan sukarela tahap ketiga agar pembangunan ruang perpustakaan agar dapat segera dilaksanakan. Komite Sekolah memberikan keringan kepada orang tua siswa dalam memberikan sumbangan sampai bulan Juni 2014.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat dan bukti pembangunan yang dilaksanakan oleh sekolah, maka sumbangan sukarela tahap ketiga pun dapat berjalan dengan lancar. Sumbangan sukarela tahap ketiga dapat mencapai Rp 28.760.000. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh partisipasi masyarakat.

7. Evaluasi dan Tindak Lanjut

Peran serta masyarakat melalui sumbangan sukarela di SD N Kemurang Wetan 01 dilaporkan ke masayarakat dan pengurus komite sekolah dalam rapat orang tua siswa pada 17 April 2014.

Dalam laporan keuangan ini masih ada kekurangan dana pembangunan lantai dua sebesar Rp 4. 320.000.Kekurangan dana pembangunan tersebut disebabkan karena sumbangan yang diberikan masih berjalan karena berdasarkan kesepakatan rapat pada 30 September 2013 sumbangan diberikan sampai bulan Juni 2014.

Akhirnya SD N Kemurang Wetan 01 mampu menambah ruang kelas baru dan ruang perpustakaan di lantai dua lengkap dengan tangga dan pagar pengaman dengan menggunakan peran serta masyarakat dalam pendidikan.

Gedung Lama

Pembangunan Ruang Kelas Baru

SD N KEMURANG WETAN 01 TANJUNG BREBES

 8. Simpulan

  1. Permasalahan sarana prasarana sekolah yang belum tercukupi dan tidak bisa dibiayai oleh pemerintah diperlukan musyawarah bersama antara orang tua , komite sekolah, guru untuk mencari solusi bersama dengan menggunakan sumbangan sukarela dari masyarakat dengan teknis yang diatur dalam hasil musyawarah.
  2. Dalam proses pembangunan sekolah terutama yang bersumber dari dana sumbangan sukarela masyarakat perlu dibentuk panitia pembanguan yang melibatkan unsur orang tua, masyarakat dan guru sehingga akan tercipta kepercayaan dari masyarakat terhadap sekolah.
  3. Semakin besarnya sumbangan dana masyarakat dapat meningkatkan investasi pembangunan gedung, penyediaan sarana prasarana, peningkatan kegiatan siswa seperti, lomba akademik dan non akademik untuk peningkatan mutu pendidikan.

9.  Saran

 

  1. Sumbangan sukarela yang diberikan oleh orang tua siswa hendaknya tidak bersifat mengikat tetapi sukarela sehingga masyarakat kurang mampu masih bisa mendapatkan layanan pendidikan di sekolah.
  2. Orang tua siswa dengan hendaknya berpartisipasi aktif dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
  3. Pemerintah memberikan perhatian khusus untuk memenuhi sarana prasarana sekolah bagi sekolah yang belum mampu memenuhi Standar Pelayanan Minimal ( SPM )

    10. DAFTAR PUSTAKA

     Indardjo., Sihombing, Umberto. 2003. Pembiayaan Pendidikan. Yogjakarta: UPP AMP YKPN

    Kurniady, Dedy A. 2011. Pengelolaan Pembiayaan Sekolah Dasar di Kab Bandung. Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1 April 2011

    Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung : Rosda Karya

    Mulyasana, Dedy. 2011. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung: Remaja Rosdakarya.

    Nanang Fattah. 2004. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung: PT. Rosdakarya.

    Supriadi, Dedi. 2010 . Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: Rosdakarya

 

Gambar

Bersama kita bisa di SD N Kemurang Wetan 01 Tanjung

Bersama kita bisa di SD N Kemurang Wetan 01 Tanjung

Bersama Kepala Sekolah se UPTD Pendidikan Kec Tanjung, dan album prestasi siswa

NGUDA RASA

bapak simbok

bapak simbok , aku arep ngudo rasa

tulung lewat impen apa cara liya

aku dikandani lan diajari

carane supaya urip becik ora adigung adiguna

tansah tentrem anyem keluarga rukun karo tangga

merga wektu iki akeh ontran ontran

urip sing nggilani marekna puyeng sirah

wong pada ngomong adu sora lan pinter

tapi lakune urip pada keblinger. 

 

aku esih kemutan jaman semana

dilawani rempah sega thiwul wadahi tampah

mangan brayan lawuh uyah karo gereh

anak sanga, pawitane bapak jelas ora cukup

kok anak anake bisa sekolahuga duwe pangkat

kluarga ora tau congkrah la piye carane?

jelas nurut ilmu ekonomi kluarga kita mesti kaliren

tapi kok anakke pada waras pada bregas ora nggik ngiken

 

menawane panganan kang tak pangan

udu hasil apus2an marang negara apa liyan

iki sing marahi dewe kuwat najan urip kesrakat

parcaya Gusti kang murbeng dumadi paring rakhmat.

 

bapak simbok aku pamit bali nang papan makarya

pikiranku sing mumet pyar dadi padang

urip pancen kudu cekelan waton

kaya pangandikanmu mbok,..cengkir kencenging pikir

Video

Pagelaran Ketoprak Ratu Ayu Kencono Ungu

Perayaan HUT Brebes ke 336 tahun 2014 oleh Sanggar Seni Dwijo Sekar Tanjung Kab Brebes

Episode Ratu Ayu Kencana Ungu ( Pagelaran Ketoprak dalam rangka HUT Brebes Tahun 2014 )

Gambar

Hiburan dari Master Sulap Pak Tarno yang asli Brebes dan grup orkes mengawali pergelaran ketoprak Overa Van Brebes yang berjudul Ratu Ayu Kencono Ungu yang digelar tepat di  alun –alun Brebes Sabtu (18/01/2014) malam.

Ketoprak sebagai media hiburan ini hadir dengan tetap menularkan nilai-nilai sejarah dalam setiap fragmen, kearifan lokal dan sindiran kebudayaan yang kental.

Pergelaran ketoprak tersebut digelar untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-336 Brebes Menariknya, seluruh pemain ketoprak diperankan oleh guru- guru dari UPTD Pendidikan Kec. Tanjung yang tergabung dalam Sanggar Seni Dwijo Sekar Tanjung. Mereka terdiri dari Pengawas TK/SD, Kepala Sekolah, Guru PNS dan Non PNS. Saya pun dapat kesempatan untuk memerankan tokoh Joko Umbaran, pemuda desa yang ingin mengabdikan dirinya kepada kerajaan , sementara itu Kepala SMP N 1 Tanjung, Hj.Mulyaningsih,menjadi tokoh utama yaitu Ratu Kencono Ungu. Sementara pemain ketoprak lainnya yakni  Kepala sekolah lainnya dan Guru baik PNS maupun GTT di lingkungan UPTD Pendidikan Kec Tanjung.

Tingkah laku para pemain sontak mengundang gelak tawa para penonton yang memadati lokasi panggung. Guyonan, dan tingkah laku para pemain mampu mengocok perut para penonton. Apalagi, pagelaran ketoprak ini disutradarai oleh Ki dalang Tarto, yang merupakan Kepala SMP 5 Satu Atap Tanjung.

“Jarang-jarang ada hiburan semacam ini. Apalagi, pemainnya adalah guru-guru semua. Saya senang karena tak dipungut biaya,” kata Pak Waud seorang penonton dari Brebes.

Alur cerita ketoprak tersebut di sebuah Kerajaan Majapahit. Di kerajaan tersebut tengah terjadi ontran-ontran yang dilakukan Kebo Marcuet (Tukidio).  Para abdi Kebo Marcuet yaitu Angkat Buto ( Aziz Moslem ) dan Angkut Buto ( Joko Ramono ) ingin membuat kekacauan dan mengganggu roda pemerintahan di Kerajaan Majapahit. Ratu Kencono Wungu pun turun tangan mengadakan sayembara untuk menumpas Kebo Marcuet.

Kebo Marcuet pun dikalahkan oleh Joko Umbaran, yang kemudian dinobatkan sebagai Bupati Blambangan, yaitu Minak Jinggo ( Tarto ) yang kemudian menjadi raja yang serakah. Akhirnya,muncul tokoh Damarwulan ( Untung Warsito ) yang dapat mengalahkan Minak Jinggo dengan dipukul menggunakan Godo Wesi Kuning dan Pedang Suko Nyono yang merupakan senjata pribadi Minakjinggo sendiri yang digunakan untuk memenggal kepala kepala Minak Jinggo. “Manusia tidak boleh sombong congkak jika menjadi seorang pemimpin.  Harus ngayomi adil dan bijaksana. Tak boleh suudzon, ini pesan yang disampaikan kepada masyarakat,” jelas Kidalang Tarto.

Menurut Kepala UPTD Pendidikan Kec. Tanjung Drs. Tusdi, M.Pd.,yang juga memerankan tokoh Eyang Bagawan Mustikamaya, mengatakan bahwa  ketoprak yang dipersembahkan oleh sanggar seni Dwijo Sekar Tanjung ini digelar sebagai hiburan gratis masyarakat saat HUT Brebes. Selain itu, pihaknya ingin agar masyarakat menjaga atau nguri-uri kebudayaan Jawa seperti kesenian ketoprak.

Sementara itu saya pun mengaku belum pernah bermain ketoprak, sehingga sedikit mengalami kendala saat pentas di atas panggung. Kendati sebelum pentas selalu rutin melakukan latihan selama 14 hari, bahkan dalam setiap latihan peran saya selalu dalam keadaan disiksa oleh  musuh musuh yang diperankan oleh Guru- guru GTT,  namun  saya ternyata dapat langsung bisa beradaptasi dengan alur cerita ketoprak tersebut. Saya mengaku senang dapat berpartisipasi bermain ketoprak bersama guru guru lainnya yang tergabung dalam sanggar seni.“Saya baru ini bermain ketoprak. Enggak ada latihan yang lama, hanya membaca sinopsis alur cerita sebentar saja,”

Diakhir cerita, kebanggaan dan sambutan serta ucapan terimakasih pun disampaikan oleh Bupati Brebes, Idza Prihanti, SE dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, Dr. Tahroni, M.Pd.

Minak Jinggo Gandrung

Wisuda Magister dan Doktoral di Kampus Konservasi Unnes

Sungguh untuk menggeser tali wisuda dari kiri ke kanan hanya sesaat, namun sebenarnya proses sesungguhnya memerlukan waktu yg cukup lama, biaya yang tidak sedikit, dan usaha yang luar biasa…

Selasa, 8 Oktober 2013, salam konservasi !

Rombongan anggota senat Unnes masuk ruang auditorium kampus konservasi. Para anggota senat ini adalah rektor, dekan, pejabat rektorat dan dekanat, dosen-dosen mahaguru, pokoknya orang sakti di bidangnya. Mereka masuk diiringi gending Jawa dancucuk lampah dengan tongkat kebesarannya. Ya ampun, para senat ini benar-benar seperti dewa. Rasanya mereka itu agung sekali. Toga mereka memang hitam, tapi hiasannya lebih menonjol dan ‘cetar membahana’. Kesannya… ya seperti dewa itu tadi.

Upacara dibuka dengan gending Jawa lengkap dengan sinden dan wiyaganya. Orkestra kampus pun menghibur setiap jeda upacara, terutama lagu Bukak Sitik Joss dengan segala aransemennya. Setelah itu, rektor mewisuda para wisudawan dengan diikuti prosesi pemindahan tali toga dari kiri ke kanan yang dikenakan oleh wisudawan universitas. Saat nilai IPK wisudawan-wisudwan diumumkan, semua sontak bertepuk tangan: 4,00, fantastis !

Kegiatan berakhir dengan Perayaan dan pelepasan magister dan doktoral yang dilaksanakan di Hotel Patrajasa oleh Direktur PPS.

“….Nduk, Nang ! besok kamu harus bisa menjadikan nama orang tuamu didengar dan wajah orang tuamu dilihat  satu kampus…” !

Teman seperjuangan dalam kuliah