NGUDA RASA

bapak simbok

bapak simbok , aku arep ngudo rasa

tulung lewat impen apa cara liya

aku dikandani lan diajari

carane supaya urip becik ora adigung adiguna

tansah tentrem anyem keluarga rukun karo tangga

merga wektu iki akeh ontran ontran

urip sing nggilani marekna puyeng sirah

wong pada ngomong adu sora lan pinter

tapi lakune urip pada keblinger. 

 

aku esih kemutan jaman semana

dilawani rempah sega thiwul wadahi tampah

mangan brayan lawuh uyah karo gereh

anak sanga, pawitane bapak jelas ora cukup

kok anak anake bisa sekolahuga duwe pangkat

kluarga ora tau congkrah la piye carane?

jelas nurut ilmu ekonomi kluarga kita mesti kaliren

tapi kok anakke pada waras pada bregas ora nggik ngiken

 

menawane panganan kang tak pangan

udu hasil apus2an marang negara apa liyan

iki sing marahi dewe kuwat najan urip kesrakat

parcaya Gusti kang murbeng dumadi paring rakhmat.

 

bapak simbok aku pamit bali nang papan makarya

pikiranku sing mumet pyar dadi padang

urip pancen kudu cekelan waton

kaya pangandikanmu mbok,..cengkir kencenging pikir

Video

Pagelaran Ketoprak Ratu Ayu Kencono Ungu

Perayaan HUT Brebes ke 336 tahun 2014 oleh Sanggar Seni Dwijo Sekar Tanjung Kab Brebes

Episode Ratu Ayu Kencana Ungu ( Pagelaran Ketoprak dalam rangka HUT Brebes Tahun 2014 )

Gambar

Hiburan dari Master Sulap Pak Tarno yang asli Brebes dan grup orkes mengawali pergelaran ketoprak Overa Van Brebes yang berjudul Ratu Ayu Kencono Ungu yang digelar tepat di  alun –alun Brebes Sabtu (18/01/2014) malam.

Ketoprak sebagai media hiburan ini hadir dengan tetap menularkan nilai-nilai sejarah dalam setiap fragmen, kearifan lokal dan sindiran kebudayaan yang kental.

Pergelaran ketoprak tersebut digelar untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-336 Brebes Menariknya, seluruh pemain ketoprak diperankan oleh guru- guru dari UPTD Pendidikan Kec. Tanjung yang tergabung dalam Sanggar Seni Dwijo Sekar Tanjung. Mereka terdiri dari Pengawas TK/SD, Kepala Sekolah, Guru PNS dan Non PNS. Saya pun dapat kesempatan untuk memerankan tokoh Joko Umbaran, pemuda desa yang ingin mengabdikan dirinya kepada kerajaan , sementara itu Kepala SMP N 1 Tanjung, Hj.Mulyaningsih,menjadi tokoh utama yaitu Ratu Kencono Ungu. Sementara pemain ketoprak lainnya yakni  Kepala sekolah lainnya dan Guru baik PNS maupun GTT di lingkungan UPTD Pendidikan Kec Tanjung.

Tingkah laku para pemain sontak mengundang gelak tawa para penonton yang memadati lokasi panggung. Guyonan, dan tingkah laku para pemain mampu mengocok perut para penonton. Apalagi, pagelaran ketoprak ini disutradarai oleh Ki dalang Tarto, yang merupakan Kepala SMP 5 Satu Atap Tanjung.

“Jarang-jarang ada hiburan semacam ini. Apalagi, pemainnya adalah guru-guru semua. Saya senang karena tak dipungut biaya,” kata Pak Waud seorang penonton dari Brebes.

Alur cerita ketoprak tersebut di sebuah Kerajaan Majapahit. Di kerajaan tersebut tengah terjadi ontran-ontran yang dilakukan Kebo Marcuet (Tukidio).  Para abdi Kebo Marcuet yaitu Angkat Buto ( Aziz Moslem ) dan Angkut Buto ( Joko Ramono ) ingin membuat kekacauan dan mengganggu roda pemerintahan di Kerajaan Majapahit. Ratu Kencono Wungu pun turun tangan mengadakan sayembara untuk menumpas Kebo Marcuet.

Kebo Marcuet pun dikalahkan oleh Joko Umbaran, yang kemudian dinobatkan sebagai Bupati Blambangan, yaitu Minak Jinggo ( Tarto ) yang kemudian menjadi raja yang serakah. Akhirnya,muncul tokoh Damarwulan ( Untung Warsito ) yang dapat mengalahkan Minak Jinggo dengan dipukul menggunakan Godo Wesi Kuning dan Pedang Suko Nyono yang merupakan senjata pribadi Minakjinggo sendiri yang digunakan untuk memenggal kepala kepala Minak Jinggo. “Manusia tidak boleh sombong congkak jika menjadi seorang pemimpin.  Harus ngayomi adil dan bijaksana. Tak boleh suudzon, ini pesan yang disampaikan kepada masyarakat,” jelas Kidalang Tarto.

Menurut Kepala UPTD Pendidikan Kec. Tanjung Drs. Tusdi, M.Pd.,yang juga memerankan tokoh Eyang Bagawan Mustikamaya, mengatakan bahwa  ketoprak yang dipersembahkan oleh sanggar seni Dwijo Sekar Tanjung ini digelar sebagai hiburan gratis masyarakat saat HUT Brebes. Selain itu, pihaknya ingin agar masyarakat menjaga atau nguri-uri kebudayaan Jawa seperti kesenian ketoprak.

Sementara itu saya pun mengaku belum pernah bermain ketoprak, sehingga sedikit mengalami kendala saat pentas di atas panggung. Kendati sebelum pentas selalu rutin melakukan latihan selama 14 hari, bahkan dalam setiap latihan peran saya selalu dalam keadaan disiksa oleh  musuh musuh yang diperankan oleh Guru- guru GTT,  namun  saya ternyata dapat langsung bisa beradaptasi dengan alur cerita ketoprak tersebut. Saya mengaku senang dapat berpartisipasi bermain ketoprak bersama guru guru lainnya yang tergabung dalam sanggar seni.“Saya baru ini bermain ketoprak. Enggak ada latihan yang lama, hanya membaca sinopsis alur cerita sebentar saja,”

Diakhir cerita, kebanggaan dan sambutan serta ucapan terimakasih pun disampaikan oleh Bupati Brebes, Idza Prihanti, SE dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, Dr. Tahroni, M.Pd.

Minak Jinggo Gandrung

Wisuda Magister dan Doktoral di Kampus Konservasi Unnes

Sungguh untuk menggeser tali wisuda dari kiri ke kanan hanya sesaat, namun sebenarnya proses sesungguhnya memerlukan waktu yg cukup lama, biaya yang tidak sedikit, dan usaha yang luar biasa…

Selasa, 8 Oktober 2013, salam konservasi !

Rombongan anggota senat Unnes masuk ruang auditorium kampus konservasi. Para anggota senat ini adalah rektor, dekan, pejabat rektorat dan dekanat, dosen-dosen mahaguru, pokoknya orang sakti di bidangnya. Mereka masuk diiringi gending Jawa dancucuk lampah dengan tongkat kebesarannya. Ya ampun, para senat ini benar-benar seperti dewa. Rasanya mereka itu agung sekali. Toga mereka memang hitam, tapi hiasannya lebih menonjol dan ‘cetar membahana’. Kesannya… ya seperti dewa itu tadi.

Upacara dibuka dengan gending Jawa lengkap dengan sinden dan wiyaganya. Orkestra kampus pun menghibur setiap jeda upacara, terutama lagu Bukak Sitik Joss dengan segala aransemennya. Setelah itu, rektor mewisuda para wisudawan dengan diikuti prosesi pemindahan tali toga dari kiri ke kanan yang dikenakan oleh wisudawan universitas. Saat nilai IPK wisudawan-wisudwan diumumkan, semua sontak bertepuk tangan: 4,00, fantastis !

Kegiatan berakhir dengan Perayaan dan pelepasan magister dan doktoral yang dilaksanakan di Hotel Patrajasa oleh Direktur PPS.

“….Nduk, Nang ! besok kamu harus bisa menjadikan nama orang tuamu didengar dan wajah orang tuamu dilihat  satu kampus…” !

Teman seperjuangan dalam kuliah

Bambang Ekalaya

Dua anak panah tepat mengenai seekor kijang buruan. Dua orang ksatria mengklaim bahwa merekalah yang berhak atas kijang yang sudah tergolek mati itu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya keduanya bersepakat untuk bertanding memanah. Siapa yang unggul, dialah yang berhak mendapatkan kijang buruan itu. Dua orang ksatria tampan itu adalah Arjuna dan Bambang Ekalaya.

Ekalaya, bukan nama yang familiar tentunya. Tapi dialah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Arjuna, lelaki pilihan para Dewa dalam adu panah. Ekalaya, nama ini bahkan tidak terdaftar, baik sebagai penduduk Astina maupun Amarta, ia hanya wayang oposan. Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nisada. Kaum ini adalah kaum yang paling rendah yaitu kaum pemburu.

Dalam sebuah perburuan kijang di sebuah hutan, panah Ekalaya tiba-tiba datang dari antah berantah dan merontokkan panah Arjuna. Arjuna sangat geram atas peristiwa itu. Kemudian ditantangnya Ekalaya untuk beradu cepat bermain panah. Tanpa diduga Arjuna yang ditahbiskan oleh langit dan bumi sebagai ahli panah, busur panah yang dilepaskannya selalu berhasil dirontokkan oleh anak panah Ekalaya. Geram dan rasa malu melingkupi hati Arjuna. Hingga dia bertanya pada Ekalaya, dari mana dia belajar ketrampilan memanah?

Dengan lantang, Ekalaya menjawab dia belajar dari Mahaguru Durna sama seperti Arjuna. Arjuna seperti disambar geledek disiang bolong. Terngiang di telinganya sumpah Durna yang hanya akan mengangkat murid dari kalangan Pandawa dan Kurawa saja. Durna tidak akan mengangkat murid dari selain Pandawa dan Kurawa.

Arjuna yang dirasuki perasaan cemburu langsung melabrak ke Sokalima, padepokan Durna. Dengan disertai caci maki, dia menghujat Durna yang dinilai Arjuna telah melanggar sumpahnya sendiri. Arjuna juga mengatakan Durna telah berlaku nista dengan mengajarkan ilmu memanah rahasia kepada orang lain selain Pandawa dan Kurawa.

Durna tentu saja kaget dengan penuturan Arjuna tersebut. Lebih kaget lagi dia mendengar penuturan Arjuna bahwa ada orang yang sanggup menandingi ketrampilan memanah Arjuna. Dan orang itu mengaku sebagai muridnya.

Diiringi seribu perasaan tak menentu, Durna meminta Arjuna untuk mengantarkannya ke tempat Ekalaya ditemui. Ekalaya yang saat itu sedang asyik menguliti kijang hasil panahannya, langsung bersimpuh begitu melihat Mahaguru Durna mendatanginya.

Selama ribuan hari dia menunggu Durna untuk datang sendiri mengajarkan panah kepadanya. Teringat dalam benak Ekalaya, saat dia datang menghadap ke Sokalima untuk berguru. Durna menampiknya karena telah terikat sumpah dengan Pandawa dan Kurawa. Meski begitu dia tidak pernah sakit hati. Justru hal itu menjadi pemicu semangatnya untuk meluluhkan hati Sang Mahaguru agar bisa membimbingnya memanah.

Dibuatnya patung Sang Mahaguru di padepokannya. Setiap pagi dan sore hari di bersihkannya patung itu dari debu. Jika hujan atau panas terik, patung itu diteduhkan dengan menggunakan payung. Sementara di samping patung Durna itu, Ekalaya belajar memanah. Setiap hari, sepanjang bulan, hingga bertahun-tahun, hingga akhirnya bisa menguasai aji Danurwenda (ajian ini bekerja seperti halnya roket, mau busurnya dilepaskan ke arah mana saja pada akhirnya akan melesat lurus ke arah sasaran, ajian ini juga banyak digunakan juru pancing ikan). Ketika Durna datang dan bertanya siapa gurunya, Ekalaya langsung menjawab lantang Durnalah guru yang selama ini membimbingnya belajar memanah.

Ekalaya menunjukkan patung sang Mahaguru yang menemaninya berlatih memanah selama ini. Durna terkesiap atas keteguhan dan kejujuran hati Ekalaya. Tak pernah dinyana, orang yang pernah ditampiknya dengan semena-mena, masih mengagungkan dirinya. Tapi Durna telah terikat janji. Dan janji seorang begawan tak mungkin lagi dibalik. Selain itu dibakar oleh api cemburu dari Arjuna yang tidak menginginkan ada orang lain yang menandinginya, Durna akhirnya berbuat nista. Akan menerima Ekalaya sebagai muridnya, asalkan Ekalaya memotong ibu jarinya dan diserahkan kepada Durna.

Tanpa banyak pikir, Ekalaya langsung memotong ibu jarinya. Diberikan kepada Durna sebagai tanda bakti seorang murid kepada gurunya, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, ia akan kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah. Jempol itu kemudian diberikan pada Arjuna. Sehingga konon jumlah jari di tangan kanan Arjuna ada enam, karena ada dua jempol disana. Satu milik Bambang Ekalaya.

Kasus keserakahan Arjuna yang tidak mau direndahkan selesai. Bambang Ekalaya disuruh pulang oleh mahaguru Durna. Tahun demi tahun berganti. Ketika para pendawa telah menetap di Indrapasta, Bambang Ekalaya ingin memberi persembahan kepada mahaguru Durna, sekaligus untuk memberitahukan bahwa Bambang Ekalaya kini telah menikah dan menjadi seorang raja. Bambang Ekalaya kemudian mengirim Dewi Anggraeni, istrinya, dikawal beberapa punggawa untuk membawa persembahan ini. Dalam perjalanan mereka diserang oleh sekelompok raksasa yang membunuh seluruh punggawa. Istri Bambang Ekalaya berhasil melarikan diri tapi para raksasa terus mengejar.

Saat itulah Dewi Anggraeni melihat seorang ksatria sedang bertapa di gua yang tak lain adalah Arjuna. Istri Bambang Ekalaya segera masuk ke dalam gua tempat Arjuna bertapa agar selamat dari kejaran para raksasa. Di sisi lain tapa Arjuna jadi terganggu, dan hiruk pikuknya kejadian membuatnya terbangun dari tapanya. Demi kemudian dilihatnya ada seorang putri cantik dikejar-kejar oleh raksasa, Arjuna segera mengambil busur dan panahnya dan dalam sekejap tumpaslah gerombolan raksasa itu. Setelah selesai menumpas para raksasa, Arjuna yang lama bertapa dan merasa garing, menjadi tertarik kepada Dewi Anggraeni, istri Bambang Ekalaya yang cantik.

Arjunapun lupa tata krama karena birahinya telah memuncak walaupun telah dijelaskan siapa sang putri itu sebenarnya. Dewi Anggraeni menolak, lalu melarikan diri, kali ini dari kejaran syahwat Arjuna. Arjuna mengejar sang putri ke pinggir tebing dimana sang putri memilih melompat, Arjuna menjadi terkejut melihat hal ini dan menyesali tindakannya.

Untungnya, ibu sang putri yang merupakan seorang dewi kemudian turun dari kahyangan untuk menolong putrinya. Istri Bambang Ekalayapun dibawa kembali ke hadapan Bambang Ekalaya oleh sang ibu. Saat ditanya apa yang telah terjadi, dijelaskan bahwa Arjuna telah lupa tata krama dan berusaha mendekati istrinya, Bambang Ekalaya menjadi marah dan bertekad untuk membunuh Arjuna.

Nglurug sampai di Indrapasta, Bambang Ekalaya segera menantang Arjuna untuk bertarung. Saat itu, Sri Kresna sedang bertamu di Indrapasta dan begitu mendengar tantangan tersebut dirinya segera sadar bahwa Arjuna akan pralaya (tewas apes akibat kesalahannya sendiri) jika bertarung melawan Bambang Ekalaya. Sementara sebagai raja yang adil dan bijaksana, Yudistira menolak untuk melibatkan kerajaan Indrapasta kedalam masalah ini, dan menyuruh Arjuna untuk mengatasi masalahnya sendiri dengan tidak menyeret-nyeret nama Indrapasta dan juga para Pandawa.

Mau tidak mau Arjuna yang juga sadar atas kesalahannya menerima tantangan Bambang Ekalaya. Pertarungan hebatpun lalu terjadi, dan terbukti Bambang Ekalaya masih cekatan walaupun dia tidak memiliki kedua jempolnya.

Berkali-kali Bambang Ekalaya terjatuh mati terkena serangan Arjuna, tapi dia tidak bisa mati karena Bambang Ekalaya memilik cincin pusaka Ampal di jari yang melindunginya dari segala marabahaya. Dan pusaka Ampal juga punya kesaktian bisa membunuh musuhnya jika ditamparkan dari jauh.

Begitulah saat Bambang Ekalaya menggunakan ajian Ampal, Arjuna pun segera terjatuh dari kudanya tak bernyawa. Sri Kresna segera memunculkan diri untuk mengambil jenasah Arjuna dan membawanya kembali.

Setelah itu Sri Kresna mengeluarkan Aji Wijayakusuma untuk menghidupkan Arjuna kembali. Arjuna yang dihidupkan kembali menyesal, sebagai seorang yang memiliki darah ksatria sebenarnya dia lebih memilih mati karena telah mencoreng nama Pandawa. Tetapi Sri Kresna menjelaskan bahwa keberadaan Arjuna sangat diperlukan Pandawa dimasa depan saat terjadi perang Bharatayuda.

Dasar machiavelis, disinilah lalu muncul kembali akal politiknya Arjuna yang kotor. Arjuna lalu berkata bahwa dia enggan hidup selama Bambang Ekalaya masih ada.

Sri Kresna kemudian menjelaskan tentang kesaktian cincin Ampal yang dimiliki Bambang Ekalaya. Tak cuma itu, bahkan oleh Sri Kresna disusunlah rencana untuk mengalahkan Bambang Ekalaya dan membunuhnya.

Suatu malam, Sri Kresna dan Arjuna menggunakan aji Halimunan untuk menyelinap ke perkemahan Bambang Ekalaya, dan dengan Aji Sirep Sri Kresna, sontak para punggawa jadi tepar dengan sukses tertidur nyenyak dibuatnya.

Saat itu Bambang Ekalaya masih belum tidur karena sedang bersemedi di hadapan patung Durna yang selalu dibawanya kemana saja. Mengetahui yang demikian, Sri Kresna kemudian menyamar menjadi Durna, lalu melalui patung tersebut berkata bahwa Bambang Ekalaya telah bersalah karena telah membunuh murid kesayangannya Arjuna.

Sri Kresna yang menyusup di patung Durna kemudian meminta cincin wasiat yang telah membunuh Arjuna untuk diletakkan di pangkuannya. Bambang Ekalaya yang gembira karena mendegar suara gurunya segera mematuhi perintah Durna dan meletakkan cincin pusaka itu di pangkuannya. Setelah dilepas, Arjuna segera mengambil pisau berburu Bambang Ekalaya yang kemudian ditusukkan kepada empunya sendiri sehingga terlihat bahwa Bambang Ekalaya telah mati bunuh diri.

Usai itu Sri Kresna dan Arjuna lalu meninggalkan perkemahan Bambang Ekalaya. Dari situ arwah Bambang Ekalaya menuntut balas kepada Resi Durna yang dikira telah membunuhnya. Dalam perang Bharatayuda kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. Arwahnya menyatu dalam tubuh Arya Drestajumena satria Pancala, yang memenggal putus kepala Resi Durna hingga menemui ajalnya! Selesai….

Pesan moralnya cari sendiri…..jangan suka nyembah berhala…..dan klo pengin jadi ksatria ga usah cluthak keik si Arjun biar kaga apes jadinya…

Pesan moral lainnya…..ati-ati klo punya urusan sama Arjuna…..dia bisa main kekuasaan sampe ngelobi para dewa bwt menangin perkaranya..

>>>Oleh GusBlerro<<<<<

Bambang ekalaya

Ramadhan Airways

Selamat datang ke Pesawat Ramadhan A dengan No. Penerbangan 1434 H menuju Ke ‘Aidil Fitri. 
Sesuai dengan peraturan Al-Qur’an kami ingin menyampaikan informasi penting untuk semua penumpang. Kita akan terbang dalam jangka masa 30 hari diatas permukaan dahaga dan kelaparan, silahkan pakai tali pinggang Puasa, tegakan sandaran Shalat, tutupkan meja Dosa didepan anda dan buka penutup jendela dengan Amal dan Taqwa. 
Pesawat ini mempunyai 3 pintu darurat, pintu pahala ada didepan anda, pintu keampunan ada ditengah dan pintu kebajikan ada dibelakang anda.
Atas sebab2 keselamatan diharapkan anda tidak mengaktifkan segala jenis hubungan propaganda dan segala rasa iri hati didalamnya, penerbangan ini dilarang timbul asa perselisihan. 

Selamat menikmati penerbangan anda, kami mengucapkan mohon maaf dzahir dan bathin.

*buat sesepuh2, sahabat2 yang masih setia hingga kehari ini maafkan jika kami ada salah & hilaf.. Selamat menyambut Ramadhan yg Agung..

Gambar

SIM TUNJANGAN FUNGSIONAL

Setelah cek & ricek ternyata bener SIM Aneka Tunjangan khususya Tunjangan Fungsional supaya datanya bisa diusulkan tetep harus memenuhi syarat,, sedangkan memenuhi syarat tsb hasil sinkronisasi dari dapodik.. mungkin manual seperti dulu sdah ga bisa. kemudian oleh pengelola diolah dipilih dan dipilah.. krna Tunjangan Fungsional juga ada batas kuotanya…!! pihak OP pengelola mungkin akan mempertimbangkan masa kerja.. jdi jika nanti walaupun anda udeh memenuhi syarat tpi ga ter usulkan datanya tuk mendapatkan tufung di tahun anggaran 2013 ini mohon bersabar.. mudah2an di tahun yg akan datang ada tambahan kuotanya…

Kesimpulannya Untuk Mendapatkan Tunjangan Fungsional Seorang Guru Harus Memenuhi Syarat berdasarkan hasil Singkronisasi Dapodik :1. Mengajar min 24 Jam 2. Masa Kerja min 6 thn 3. Memiliki NUPTK 4. Masuk Daftar Quota KRITERIA PENERIMA SUBSIDI (STF) Bagi Guru Bukan PNS (GBPNS)

1. Guru bukan pegawai negeri sipil (GBPNS) yang masih aktif (GTT/GTY).

2. Memiliki masa kerja sebagai guru secara terus menerus sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun pada 1 Januari 2012 , atau Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Januari 2006 dan sebelumnya.

3. Memenuhi kewajiban melaksanakan tugas minimal 24 jam tatap muka per minggu bagi guru atau membimbing 150 peserta didik bagi guru BK yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Pembagian Tugas Mengajar, remidi ataupun ekstrakurikuler tidak diperhitun gkan.

4. Ketentuan 24 jam tatap muka (sesuai PP 74 Tahun 2008) dikecualikan bagi: – Guru yang mendapat tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah, mengajar 6 jam tatap muka per minggu atau membimbing 40 peserta didik untuk KS dari guru BK. – Guru yang mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Sekolah, mengajar 12 jam tatap muka per minggu atau membimbing 80 peserta didik. – Guru yang mendapat tugas tambahan sebagai Ketua Program Keahlian, Kepala Perpustakaan, Kepala Laboratorium, Kepala Bengkel/Unit Produksi, mengajar 12 jam tatap muka per minggu.

5. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).

6. Belum memiliki sertifikat pendidik (belum lulus sertifikasi).

7. Belum memasuki usia pensiun guru (60 tahun).

TUK TAHUN ANGGARAN SKRANG DATA AWALNYA (DATA MENTAHNYA) diambil dari aplikasi pendataan dikdas ini.. proses selanjutnya di usulkan oleh pengelola Aneka TUnjangan di daerah anda masing2..

ITU ATURAN NYA ! DILAPANGAN ???? UNTUK SEKARANG PENGUSULAN TF SUDAH TUTUP !!!

Copas : Kampung Pendataan Didas Prop. Jateng