Masugiyono Web ( go-Blog )

Masukan dari Juli 2008

Harapan seorang guru

Juli 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Digugu lan ditiru!” Begitulah singkatan yang diberikan oleh orang-orang tua kita pada zaman dulu terhadap figur seorang guru. Kata-katanya mesti dapat dipercaya, perilakunya pun dapat diteladani. Ungkapan itu menyiratkan betapa besarnya tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang guru.
Ya, tempo doeloe, ketika sistem pendidikan kita masih berbentuk pertapaan atau padepokan yang begitu bersahaja, resi memang benar-benar menjadi sosok yang terhormat dan bermartabat. Mereka menjadi figur panutan, pinjunjul, mumpuni, berwibawa, dan disegani. Apa kata sang resi menjadi “sabda” tak terbantahkan.
Institusi pertapaan tak ubahnya “kawah candradimuka”, tempat seorang resi menggembleng para cantrik agar kelak menjadi sosok yang arif, tangguh, kaya ilmu, memiliki kepekaan sosial dan moral yang tinggi. Di mata masyarakat, kehadiran seorang resi pun begitu tinggi citranya. Bermartabat, terhormat, dan memiliki legitimasi sosial yang mengagumkan. Masyarakat benar-benar respek terhadapnya. Tidak jarang sang resi menjadi sumber informasi, sumber “sugesti”, atau sumber inspirasi masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul. Namun, zaman sekarang telah berubah. Mengharapkan sosok guru yang pinunjul, mumpuni, dan disegani seperti seorang resi, tampaknya terlalu berlebihan. Di hadapan siswa, kata-kata guru bukan lagi “sabda” yang mesti diturut. Bahkan, dalam banyak hal, guru harus lebih sering mengelus dada, merenungi nasibnya yang kurang beruntung. Dengan tingkat kesejahteraan yang minim, status sosial guru pun semakin tersisih di tengah-tengah masyarakat yang cenderung mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi dan kebendaan. Guru juga manusia. Punya hati dan rasa. Mereka juga butuh sandang, pangan, dan papan yang layak. Ketika semua itu belum terpenuhi, salahkah jika guru harus “membanting tulang”, mencari penghasilan tambahan? Bagaimana mungkin guru bisa mengajar sekaligus mendidik secara total dan intens kalau masih harus memilikirkan tuntutan kebutuhan hidup? Sementara itu, pada sisi lain, masyarakat tetap menuntut agar guru tampil perfect dan sempurna bagaikan seorang resi. Mumpuni ilmunya, terampil mengajar, sekaligus menjadi teladan bagi siswa didiknya. Dalam bahasa sekarang, guru harus benar-benar tampil profesional; sebagai agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.Menyikapi kondisi semacam itu, bisa dipahami kalau pemerintah berupaya serius untuk mengembalikan ke-“resi”-an seorang guru. UU Guru dan Dosen pun diluncurkan Desember 2005 yang lalu. Dalam UU itu, kesejahteraan guru cukup menggiurkan lantaran akan memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Namun, untuk memperoleh hak-hak guru semacam itu, tampaknya bukan perkara mudah. Guru harus memiliki sertifikat pendidik. Prosesnya pun cukup rumit dan berliku. Minimal harus berpendidikan D-4/S-1. Belum lagi terhitung pelaksanaan program sertifikasi yang mesti ditempuhnya. Nah, haruskah guru terpaksa “gigit jari” ketika gagal memiliki sertifikat pendidik akibat rumitnya prosedur birokrasi yang mesti ditempuhnya? Lantas, kapan sosok guru bisa menjelma menjadi seorang “resi” ketika mereka masih harus memikirkan tuntutan kebutuhan hidup akibatnya minimnya tingkat penghasilan? Kita berharap, semoga program sertifikasi mampu menjawab semua pertanyaan itu melalui kebijakan yang lebih mempunyai tujuan yang pastidan manusiawi.

 

Kategori: 1
Ditandai: ,

Wajah pendidikan kita…

Juli 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penuntasan program wajib belajar sembilan tahun di Kabupaten Brebes, terkendala oleh sikap orang tua. Sebagian besar masyarakat di tempat itu lebih memprioritaskan anak-anaknya bekerja dibanding melanjutkan pendidikan. “Misalnya menjadi buruh “mrogol “di lapak bawang,  atau menjadi pembantu rumah tangga ( pekerja anak anak dibawah umur ). Bahkan dengan mengantongi ijazah SD saja, sudah berani menjadi TKI di luar negeri dengan iming iming gaji yang besar.Perilaku seperti itu sangat kental pada masyarakat wilayah Kecamatan Tanjung, Bulakamba, Kersana, banjarharjo. Dengan alasan membantu keluarga, anak-anak usia sekolah SD dan SLTP di Kecamatan Tanjung lebih memilih bekerja di lapak lapak bawang yang ada di desanya.
Sedangkan di Kecamatan Tanjung terutama di Desa Sengon memilih bekerja menjadi buruh mrogol bawang,  ”Mayoritas adalah anak-anak perempuan”. Pemerintah desa tidak bisa berbuat banyak atas sikap para orang tua seperti itu, karena itu menjadi hak mereka. Dinas pendidikan setempat hanya bisa membantu dengan menggelar program kelompok belajar paket A dan B secara gratis. 
Tarsilah bocah 12 tahun yang merupakan anak didik SD Sengon 02 tahun ini, memilih menjadi buruh mrogol bawang karena alasan ekonomi, padahal keluarganya mampu untuk membiayai sekolah. Hal ini disebabkan karena perhatian orang tua terhadap pendidikan anak kurang, tidak mau mengeluarkan biaya, lebih mementingkan harta kekayaan yang lain ( rumah mewah, kendaraan, makan enak, dll ). Sehingga akibatnya angka putus sekolah, angka anak anak yang tidak mengikuti wajib belajar masih besar. 

 

Orang tua memang tahu ada sekolah yang membebaskan biaya pendidikan. “Kweh seragam karo bukune bae ora gratis,” kata mereka. Sebagai kuli harian oerang tua tersebut, ia mendapat bayaran Rp.20 ribu per hari. Sebuah pendapatan yang sudah cukup untuk membiayai pendidikan anak sekolah baik SD ataupun SMP. Data putus sekolah yang ada di SD Sengon 02 tahun 2007, terdapat 5 anak putus sekolah, tahun 2008 menurun menjadi 3 anak. Mereka kebanyakan putus sekolah di kelas 4. Untuk Data Angka Siswa yang melanjutkan/ meneruskan ke SLTP untuk lulusan tiap tahunnya, tahun 2007 , yang meneruskan 35 meneruskan ke SLTP dari 61 siswa. Tahun 2008 mengalami peningkatan yaitu, 34 meneruskan ke SLTP dari 43 siswa.

Sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan di Kabupaten Brebes tahun ini, melalui Dinas P dan K, Cabang Dinas P dan K, pemerintah daerah mencoba untuk mendata semua angka putus sekolah dan semua anak yang tidak bisa meneruskan ke SLTP tahun ini. Kemudian setiap sekolah terkait di berikan tugas untuk menyelenggarakan pendidikan kejar paket di daerah masing masing. Tentunya solusi ini tidak hanya sekolah saja yang dibebani, namun pemerintah di tingkat kecamatan sampai desa (RT, Rw ) perlu dilibatkan, sehingga harapan kita di daerah Brebes ini angka Buta Aksara, angka putus sekolah, dan lain sebagainya dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Amin

Kategori: 1
Ditandai: ,