Wajah pendidikan kita…

Penuntasan program wajib belajar sembilan tahun di Kabupaten Brebes, terkendala oleh sikap orang tua. Sebagian besar masyarakat di tempat itu lebih memprioritaskan anak-anaknya bekerja dibanding melanjutkan pendidikan. “Misalnya menjadi buruh “mrogol “di lapak bawang,  atau menjadi pembantu rumah tangga ( pekerja anak anak dibawah umur ). Bahkan dengan mengantongi ijazah SD saja, sudah berani menjadi TKI di luar negeri dengan iming iming gaji yang besar.Perilaku seperti itu sangat kental pada masyarakat wilayah Kecamatan Tanjung, Bulakamba, Kersana, banjarharjo. Dengan alasan membantu keluarga, anak-anak usia sekolah SD dan SLTP di Kecamatan Tanjung lebih memilih bekerja di lapak lapak bawang yang ada di desanya.
Sedangkan di Kecamatan Tanjung terutama di Desa Sengon memilih bekerja menjadi buruh mrogol bawang,  “Mayoritas adalah anak-anak perempuan”. Pemerintah desa tidak bisa berbuat banyak atas sikap para orang tua seperti itu, karena itu menjadi hak mereka. Dinas pendidikan setempat hanya bisa membantu dengan menggelar program kelompok belajar paket A dan B secara gratis. 
Tarsilah bocah 12 tahun yang merupakan anak didik SD Sengon 02 tahun ini, memilih menjadi buruh mrogol bawang karena alasan ekonomi, padahal keluarganya mampu untuk membiayai sekolah. Hal ini disebabkan karena perhatian orang tua terhadap pendidikan anak kurang, tidak mau mengeluarkan biaya, lebih mementingkan harta kekayaan yang lain ( rumah mewah, kendaraan, makan enak, dll ). Sehingga akibatnya angka putus sekolah, angka anak anak yang tidak mengikuti wajib belajar masih besar. 

 

Orang tua memang tahu ada sekolah yang membebaskan biaya pendidikan. “Kweh seragam karo bukune bae ora gratis,” kata mereka. Sebagai kuli harian oerang tua tersebut, ia mendapat bayaran Rp.20 ribu per hari. Sebuah pendapatan yang sudah cukup untuk membiayai pendidikan anak sekolah baik SD ataupun SMP. Data putus sekolah yang ada di SD Sengon 02 tahun 2007, terdapat 5 anak putus sekolah, tahun 2008 menurun menjadi 3 anak. Mereka kebanyakan putus sekolah di kelas 4. Untuk Data Angka Siswa yang melanjutkan/ meneruskan ke SLTP untuk lulusan tiap tahunnya, tahun 2007 , yang meneruskan 35 meneruskan ke SLTP dari 61 siswa. Tahun 2008 mengalami peningkatan yaitu, 34 meneruskan ke SLTP dari 43 siswa.

Sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan di Kabupaten Brebes tahun ini, melalui Dinas P dan K, Cabang Dinas P dan K, pemerintah daerah mencoba untuk mendata semua angka putus sekolah dan semua anak yang tidak bisa meneruskan ke SLTP tahun ini. Kemudian setiap sekolah terkait di berikan tugas untuk menyelenggarakan pendidikan kejar paket di daerah masing masing. Tentunya solusi ini tidak hanya sekolah saja yang dibebani, namun pemerintah di tingkat kecamatan sampai desa (RT, Rw ) perlu dilibatkan, sehingga harapan kita di daerah Brebes ini angka Buta Aksara, angka putus sekolah, dan lain sebagainya dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s