Bambang Ekalaya

Dua anak panah tepat mengenai seekor kijang buruan. Dua orang ksatria mengklaim bahwa merekalah yang berhak atas kijang yang sudah tergolek mati itu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya keduanya bersepakat untuk bertanding memanah. Siapa yang unggul, dialah yang berhak mendapatkan kijang buruan itu. Dua orang ksatria tampan itu adalah Arjuna dan Bambang Ekalaya.

Ekalaya, bukan nama yang familiar tentunya. Tapi dialah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Arjuna, lelaki pilihan para Dewa dalam adu panah. Ekalaya, nama ini bahkan tidak terdaftar, baik sebagai penduduk Astina maupun Amarta, ia hanya wayang oposan. Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nisada. Kaum ini adalah kaum yang paling rendah yaitu kaum pemburu.

Dalam sebuah perburuan kijang di sebuah hutan, panah Ekalaya tiba-tiba datang dari antah berantah dan merontokkan panah Arjuna. Arjuna sangat geram atas peristiwa itu. Kemudian ditantangnya Ekalaya untuk beradu cepat bermain panah. Tanpa diduga Arjuna yang ditahbiskan oleh langit dan bumi sebagai ahli panah, busur panah yang dilepaskannya selalu berhasil dirontokkan oleh anak panah Ekalaya. Geram dan rasa malu melingkupi hati Arjuna. Hingga dia bertanya pada Ekalaya, dari mana dia belajar ketrampilan memanah?

Dengan lantang, Ekalaya menjawab dia belajar dari Mahaguru Durna sama seperti Arjuna. Arjuna seperti disambar geledek disiang bolong. Terngiang di telinganya sumpah Durna yang hanya akan mengangkat murid dari kalangan Pandawa dan Kurawa saja. Durna tidak akan mengangkat murid dari selain Pandawa dan Kurawa.

Arjuna yang dirasuki perasaan cemburu langsung melabrak ke Sokalima, padepokan Durna. Dengan disertai caci maki, dia menghujat Durna yang dinilai Arjuna telah melanggar sumpahnya sendiri. Arjuna juga mengatakan Durna telah berlaku nista dengan mengajarkan ilmu memanah rahasia kepada orang lain selain Pandawa dan Kurawa.

Durna tentu saja kaget dengan penuturan Arjuna tersebut. Lebih kaget lagi dia mendengar penuturan Arjuna bahwa ada orang yang sanggup menandingi ketrampilan memanah Arjuna. Dan orang itu mengaku sebagai muridnya.

Diiringi seribu perasaan tak menentu, Durna meminta Arjuna untuk mengantarkannya ke tempat Ekalaya ditemui. Ekalaya yang saat itu sedang asyik menguliti kijang hasil panahannya, langsung bersimpuh begitu melihat Mahaguru Durna mendatanginya.

Selama ribuan hari dia menunggu Durna untuk datang sendiri mengajarkan panah kepadanya. Teringat dalam benak Ekalaya, saat dia datang menghadap ke Sokalima untuk berguru. Durna menampiknya karena telah terikat sumpah dengan Pandawa dan Kurawa. Meski begitu dia tidak pernah sakit hati. Justru hal itu menjadi pemicu semangatnya untuk meluluhkan hati Sang Mahaguru agar bisa membimbingnya memanah.

Dibuatnya patung Sang Mahaguru di padepokannya. Setiap pagi dan sore hari di bersihkannya patung itu dari debu. Jika hujan atau panas terik, patung itu diteduhkan dengan menggunakan payung. Sementara di samping patung Durna itu, Ekalaya belajar memanah. Setiap hari, sepanjang bulan, hingga bertahun-tahun, hingga akhirnya bisa menguasai aji Danurwenda (ajian ini bekerja seperti halnya roket, mau busurnya dilepaskan ke arah mana saja pada akhirnya akan melesat lurus ke arah sasaran, ajian ini juga banyak digunakan juru pancing ikan). Ketika Durna datang dan bertanya siapa gurunya, Ekalaya langsung menjawab lantang Durnalah guru yang selama ini membimbingnya belajar memanah.

Ekalaya menunjukkan patung sang Mahaguru yang menemaninya berlatih memanah selama ini. Durna terkesiap atas keteguhan dan kejujuran hati Ekalaya. Tak pernah dinyana, orang yang pernah ditampiknya dengan semena-mena, masih mengagungkan dirinya. Tapi Durna telah terikat janji. Dan janji seorang begawan tak mungkin lagi dibalik. Selain itu dibakar oleh api cemburu dari Arjuna yang tidak menginginkan ada orang lain yang menandinginya, Durna akhirnya berbuat nista. Akan menerima Ekalaya sebagai muridnya, asalkan Ekalaya memotong ibu jarinya dan diserahkan kepada Durna.

Tanpa banyak pikir, Ekalaya langsung memotong ibu jarinya. Diberikan kepada Durna sebagai tanda bakti seorang murid kepada gurunya, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, ia akan kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah. Jempol itu kemudian diberikan pada Arjuna. Sehingga konon jumlah jari di tangan kanan Arjuna ada enam, karena ada dua jempol disana. Satu milik Bambang Ekalaya.

Kasus keserakahan Arjuna yang tidak mau direndahkan selesai. Bambang Ekalaya disuruh pulang oleh mahaguru Durna. Tahun demi tahun berganti. Ketika para pendawa telah menetap di Indrapasta, Bambang Ekalaya ingin memberi persembahan kepada mahaguru Durna, sekaligus untuk memberitahukan bahwa Bambang Ekalaya kini telah menikah dan menjadi seorang raja. Bambang Ekalaya kemudian mengirim Dewi Anggraeni, istrinya, dikawal beberapa punggawa untuk membawa persembahan ini. Dalam perjalanan mereka diserang oleh sekelompok raksasa yang membunuh seluruh punggawa. Istri Bambang Ekalaya berhasil melarikan diri tapi para raksasa terus mengejar.

Saat itulah Dewi Anggraeni melihat seorang ksatria sedang bertapa di gua yang tak lain adalah Arjuna. Istri Bambang Ekalaya segera masuk ke dalam gua tempat Arjuna bertapa agar selamat dari kejaran para raksasa. Di sisi lain tapa Arjuna jadi terganggu, dan hiruk pikuknya kejadian membuatnya terbangun dari tapanya. Demi kemudian dilihatnya ada seorang putri cantik dikejar-kejar oleh raksasa, Arjuna segera mengambil busur dan panahnya dan dalam sekejap tumpaslah gerombolan raksasa itu. Setelah selesai menumpas para raksasa, Arjuna yang lama bertapa dan merasa garing, menjadi tertarik kepada Dewi Anggraeni, istri Bambang Ekalaya yang cantik.

Arjunapun lupa tata krama karena birahinya telah memuncak walaupun telah dijelaskan siapa sang putri itu sebenarnya. Dewi Anggraeni menolak, lalu melarikan diri, kali ini dari kejaran syahwat Arjuna. Arjuna mengejar sang putri ke pinggir tebing dimana sang putri memilih melompat, Arjuna menjadi terkejut melihat hal ini dan menyesali tindakannya.

Untungnya, ibu sang putri yang merupakan seorang dewi kemudian turun dari kahyangan untuk menolong putrinya. Istri Bambang Ekalayapun dibawa kembali ke hadapan Bambang Ekalaya oleh sang ibu. Saat ditanya apa yang telah terjadi, dijelaskan bahwa Arjuna telah lupa tata krama dan berusaha mendekati istrinya, Bambang Ekalaya menjadi marah dan bertekad untuk membunuh Arjuna.

Nglurug sampai di Indrapasta, Bambang Ekalaya segera menantang Arjuna untuk bertarung. Saat itu, Sri Kresna sedang bertamu di Indrapasta dan begitu mendengar tantangan tersebut dirinya segera sadar bahwa Arjuna akan pralaya (tewas apes akibat kesalahannya sendiri) jika bertarung melawan Bambang Ekalaya. Sementara sebagai raja yang adil dan bijaksana, Yudistira menolak untuk melibatkan kerajaan Indrapasta kedalam masalah ini, dan menyuruh Arjuna untuk mengatasi masalahnya sendiri dengan tidak menyeret-nyeret nama Indrapasta dan juga para Pandawa.

Mau tidak mau Arjuna yang juga sadar atas kesalahannya menerima tantangan Bambang Ekalaya. Pertarungan hebatpun lalu terjadi, dan terbukti Bambang Ekalaya masih cekatan walaupun dia tidak memiliki kedua jempolnya.

Berkali-kali Bambang Ekalaya terjatuh mati terkena serangan Arjuna, tapi dia tidak bisa mati karena Bambang Ekalaya memilik cincin pusaka Ampal di jari yang melindunginya dari segala marabahaya. Dan pusaka Ampal juga punya kesaktian bisa membunuh musuhnya jika ditamparkan dari jauh.

Begitulah saat Bambang Ekalaya menggunakan ajian Ampal, Arjuna pun segera terjatuh dari kudanya tak bernyawa. Sri Kresna segera memunculkan diri untuk mengambil jenasah Arjuna dan membawanya kembali.

Setelah itu Sri Kresna mengeluarkan Aji Wijayakusuma untuk menghidupkan Arjuna kembali. Arjuna yang dihidupkan kembali menyesal, sebagai seorang yang memiliki darah ksatria sebenarnya dia lebih memilih mati karena telah mencoreng nama Pandawa. Tetapi Sri Kresna menjelaskan bahwa keberadaan Arjuna sangat diperlukan Pandawa dimasa depan saat terjadi perang Bharatayuda.

Dasar machiavelis, disinilah lalu muncul kembali akal politiknya Arjuna yang kotor. Arjuna lalu berkata bahwa dia enggan hidup selama Bambang Ekalaya masih ada.

Sri Kresna kemudian menjelaskan tentang kesaktian cincin Ampal yang dimiliki Bambang Ekalaya. Tak cuma itu, bahkan oleh Sri Kresna disusunlah rencana untuk mengalahkan Bambang Ekalaya dan membunuhnya.

Suatu malam, Sri Kresna dan Arjuna menggunakan aji Halimunan untuk menyelinap ke perkemahan Bambang Ekalaya, dan dengan Aji Sirep Sri Kresna, sontak para punggawa jadi tepar dengan sukses tertidur nyenyak dibuatnya.

Saat itu Bambang Ekalaya masih belum tidur karena sedang bersemedi di hadapan patung Durna yang selalu dibawanya kemana saja. Mengetahui yang demikian, Sri Kresna kemudian menyamar menjadi Durna, lalu melalui patung tersebut berkata bahwa Bambang Ekalaya telah bersalah karena telah membunuh murid kesayangannya Arjuna.

Sri Kresna yang menyusup di patung Durna kemudian meminta cincin wasiat yang telah membunuh Arjuna untuk diletakkan di pangkuannya. Bambang Ekalaya yang gembira karena mendegar suara gurunya segera mematuhi perintah Durna dan meletakkan cincin pusaka itu di pangkuannya. Setelah dilepas, Arjuna segera mengambil pisau berburu Bambang Ekalaya yang kemudian ditusukkan kepada empunya sendiri sehingga terlihat bahwa Bambang Ekalaya telah mati bunuh diri.

Usai itu Sri Kresna dan Arjuna lalu meninggalkan perkemahan Bambang Ekalaya. Dari situ arwah Bambang Ekalaya menuntut balas kepada Resi Durna yang dikira telah membunuhnya. Dalam perang Bharatayuda kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. Arwahnya menyatu dalam tubuh Arya Drestajumena satria Pancala, yang memenggal putus kepala Resi Durna hingga menemui ajalnya! Selesai….

Pesan moralnya cari sendiri…..jangan suka nyembah berhala…..dan klo pengin jadi ksatria ga usah cluthak keik si Arjun biar kaga apes jadinya…

Pesan moral lainnya…..ati-ati klo punya urusan sama Arjuna…..dia bisa main kekuasaan sampe ngelobi para dewa bwt menangin perkaranya..

>>>Oleh GusBlerro<<<<<

Bambang ekalaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s