cemporet

23 April 2008.

Waktu tlah berlalu dalam setahun, dalam ingatan untuk berdoa dan mengenang bagi si kecil DONY EKO PRASETYO, sebuah kekuatan DOA muncul mengalahkan segalanya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, menjadi mungkin, sesatu yang tidak masuk akal menjadi hal yang harus diterima.

Si kecil DONY, kau pahlawan. Kau berjuang dalam kesendirianmu untuk melawan penyakit ganas yang tiba tiba ada pada dirimu dengan sekuat tenaga kecilmu. Sebuah penyakit yang tak biasa untuk sekecil dirimu. Kamu sudah memohon untuk diberi kesempatan untuk lebih lama melihat dunia, kamu sudah meminta ampun dari segala dosa, atau malah kamu melihat siapa yang ada disekitarmu ? Sehingga dalam kepedihanmu, terlintas sebuah pikiran :Kuatkah orang orang di sekitarku ini untuk menanggung dan melihat deritaku ?

Jalan yang lebih baik telah diberikan kepadamu, dan kau memilihnya. Disaat terakhirmu, tak kau lupa jasa sesorang untuk berucap terima kasih, walau hanya dengan tatapan kosong untuk sementara waktu, menjelang kain kafan menutup wajahmu. Istirahatlah nak, di tanah Bekasi ,disamping kakek tercintamu. Semoga kau damai disisinya….

Di dalam perjalanan untuk berjumpa denganmu walau sudah tiada, masih kau sempatkan jasadmu menungguku agar terpenuhi permintaan terakhirmu, untuk dapat menutup matamu yang sudah kosong. Walau aku tak percaya apa yang terjadi. Hujan deras, air menggenang di sekitarmu. Akhirnya aku bisa mengantarmu diperistirahatan terakhir.

Ternyata ada berbagai hal yang harus kuketahui. Alloh menyayangi kita dengan segala macam cara, bukan hanya dengan memudahkan segala urusan kita, tetapi mendadak kita harus melalui dengan segala cobaan. Namun ketika kita sudah menerima dengan ikhlas, maka Alloh akan memberikan segalanya.

25 April 2008

Kekuatan doa itu diberikan. Sebuah amanah untuk mengikuti uji sertifikasi 2008. Diantara sekian teman teman senior yang belum diberikan kesempatan, ternyata namaku muncul terlebih dahulu. Dengan segala upaya dan daya , terkumpullah sebuah portopolio, walau dengan biaya yang tak ternilai, mulai biaya kegiatan forum ilmiah, pelatihan atau fotokopi yang sering kliru, kebanyakan, tak terhitung, dsb.

Sebuah cerita dari seorang teman baik di kecamatan Brebes kota yang belum terjaring untuk kesempatan tahun ini, berusaha menembus birokrasi yang ada, walau ditanggapi dengan kata ” tidak bisa ” . Dengan perasaan legowo dan ikhlas menerima kenyataan untuk menunggu di tahun berikutnya, akhirnya hanya selisih 2 jam sebuah berita hangat menghubunginya agar menyusul segera data data untuk ikut sertipikasi tahun ini juga.

Akhirnya, hanya dengan modal masa kerja kerja 9 th, 10 STPPL, 15 Sertipikat dan sedikit kemampuan paedagogik dan sosial, semoga aku dijauhkan dari PLPG ( semoga kekuatan doa itu hadir lagi ……. )